Selasa, 05 Januari 2016

Cara Pandang

Standard

Sosial media saya malam ini sibuk diserbu broadcast mengenai "yang katanya" rekan kita mahasiswa, dulur kita sesama pengejar ijazah pendidikan tinggi itu didzolimi oleh pihak yang berkuasa. Semua kawan-kawan, dulur mahasiswa heboh, gempar. Semua satu mendukung. Satu terluka, semua menderita. Mungkin itu keyword super dan menyentuh bagi kita sesama mahasiswa.
Rekan, dulur kita di salah satu PTN ibu kota di depak dari kampus oleh pejabat berwenang dengan tuduhan yang tak biasa dan tak bisa dianggap angin lalu saja. Pasal dalam perundang-undangan sahut menyahut. Langgar pasal ITE, pasal pencemaran nama baik, pasal tindakan penghasutan dan sebagainya.
Semua rekan-rekan, dulur sesama mahasiswa se-Indonesia saling lempar berita, mengabarkan ada dulur kita yang tercampakkan oleh kekuasaan. Tanpa kroscek dengan bangganya kita bantu sebar berita yang belum kita konfirmasi sebelumnya. Belum kita telusuri kebenarannya.
Mungkin saat ini momen yang tepat untuk kita semua. Mahasiswa dituntut kritis tapi tetap harus realistis dan logis. Kita bisa bersuara lantang dengan pegangan alat dan atau data akurat sebagai bukti. Kita jangan termakan isu. Kalau sebatas mengikuti isu tanpa ada kejelasan, cukuplah pribadi sendiri yang konsumsi. Atau boleh sharing kepada dia yang bisa dipercaya. Jangan langsung di lempar ke publik.
Penguasa ini salah, begini, begitu, melanggar ini, melanggar itu harus dibuktikan dengan fakta, bukan sekedar isu yang kita racik dengan opini pribadi dan mungkin terkontaminasi bisikan-bisikan lawan dari sang penguasa yang ingin sang penguasa jatuh dengan cara kita, cara mahasiswa. Kita jangan sampai terhasut.
Dengan adanya kejadian ini, mungkin bisa jadi bahan introspeksi diri. Kata orang mahasiwa itu penyambung lidah rakyat. Tidak sepenuhnya saya setuju. Basic kita ialah kuliah. Untuk dapat di posisi sekarang, sebagai mahasiswa perjuangan kita tidak mudah. Menyelesaikan pendidikan 12 tahun mungkin lebih, mungkin kurang. Belum lagi perjuangan mendapatkan bangku kuliah, kita harus berjibaku melawan ribuan orang untuk dapat posisi kita sekarang ini. Perjuangan orang tua menyediakan dana pendidikan kita yang tak sedikit. Jerih payah keringatnya, doanya agar kita anaknya mendapat pendidikan yang tinggi tentu layak. Agar apa? Banyak harapan dalam doa mereka, harapan kita mengangkat derajat keluarga, harapan kehidupan kita yang baik, dan banyak harapan orang tua yang tersemat dalam status kita sebagai mahasiswa ini. Sudah saatnya mindset kita di reset. Kembali ke pengaturan pabrik. Bahwasanya kita memiliki tujuan dasar sebagai mahasiswa. Bukan kewajiban kita untuk demo sana sini, tuntut sana, tuntut sini. Biarlah semua berjalan semestinya. Kita fokus pada tujuan dasar kita, biarlah semua terangkum dengan semua rules nya. Penguasa eksekutif, ada legislatif yang mengawasi. Bidang hukum, biarlah yudikatif yang bertindak. Kita hidup di negeri merdeka, semua sudah berjalan sesuai koridor dan kaidahnya.
Penyambung lidah rakyat ada lembaga legislatif. Itu lembaga, bukan mahasiswa yang sebatas objek. Belum lagi ada profesional, aktifis-aktifis sebenarnya dan lembaga swadaya yang lebih berkompeten mengurus itu semua.
Masalah penguasa tidak usah sibuk oceh sana sini. Dari 2004 kita sudah demokrasi seutuhnya. Kita diberi kebebasan memilih penguasa. Ada salah sana sini, salah penguasa? Bukan! Itu salah kita semua. Salah kita sebagai golongan terpelajar yang tidak dapat banyak memasok bagian dari kita yang layak jadi penguasa. Beginilah jadinya. Kita diberi jalan tapi tak mampu memanfaatkan secara maksimal. Sekarang apa? Biarlah kita ikuti semua sampai selesai. Bukan kewajiban kita menyalahkan, tuntut sana sini.
Dan pada poinnya, semua peristiwa ini menjadi pembelajaran kita semua. Biarlah yang bersangkutan bertindak sesuai koridor untuk mengembalikan hak-nya. Kita sebagai sesama mahasiswa mendukung, baik moril dan juga doa. Kita jangan terpancing untuk ikut dalam hal yang belum jelas. Biarlah semuanya terselesaikan sebagaimana mestinya. Kita hanya berharap yang terbaik. Pengalaman biarlah tetap menjadi pembelajaran yang paling berharga.
Sekali lagi, jangan terpancing. Mahasiswa, biasakan realistis dan logis.
Hidup mahasiswa!